Review Jujur Film Tentang Goodbye June. Goodbye June (2025) menjadi salah satu tontonan akhir tahun yang paling hangat di Netflix, rilis streaming pada 24 Desember 2025 setelah tayang terbatas di bioskop mulai 12 Desember. Ini adalah debut penyutradaraan Kate Winslet yang juga ikut bermain, dengan naskah ditulis anaknya sendiri, Joe Anders, yang terinspirasi dari pengalaman pribadi kehilangan neneknya karena kanker. Film berdurasi 1 jam 54 menit ini mengisahkan keluarga yang berkumpul di rumah sakit menjelang Natal karena ibu mereka, June (Helen Mirren), didiagnosis kanker stadium akhir. Dengan campuran drama keluarga, humor gelap, dan momen haru, review film ini mengeksplorasi dinamika rumit saudara kandung, pengampunan, serta cara menghadapi kehilangan dengan penuh cinta. Ensemble cast bintang Inggris membuatnya terasa intim dan autentik, meski tak lepas dari kritik soal sentimen berlebih.
Sinopsis dan Suasana Natal yang Berbeda
Cerita berpusat pada June, seorang ibu tangguh dan sarkastis yang menghadapi kematian dengan kejujuran brutal serta humor pedas, bukan keputusasaan. Ketika ia kolaps di rumah, empat anak dewasa—Helen (Toni Collette) yang eksentrik dan spiritual, Julia (Kate Winslet) si pengurus keluarga, Molly (Andrea Riseborough) yang penuh konflik, serta Connor (Johnny Flynn) si bungsu yang masih tinggal di rumah—dipaksa berkumpul bersama ayah mereka Bernie (Timothy Spall) yang agak cuek. Lokasi utama di rumah sakit membuat suasana terasa terkekang tapi hangat, di mana pertengkaran lama muncul kembali, tapi juga membuka ruang untuk rekonsiliasi. Elemen Natal hadir unik: karena June mungkin tak sempat menyaksikan hari raya, keluarga memutuskan merayakan Natal lebih awal dengan nativity play improvisasi yang lucu sekaligus menyentuh. Ini bukan film Natal ringan penuh glitter, melainkan tentang bagaimana liburan bisa jadi momen refleksi atas kehilangan, dengan humor yang muncul dari kenyataan pahit seperti sesi Reiki konyol atau lagu pub Bernie yang mengharukan.
Performa Pemeran dan Emosi yang Mengena
Helen Mirren sebagai June mencuri perhatian total—perannya penuh kekuatan, kelembutan, dan sarkasme yang membuat penonton ikut merasakan perjuangannya tanpa jatuh ke drama murahan. Mirren berhasil menampilkan sisi rapuh tapi tetap mengontrol, terutama saat berinteraksi dengan perawat Angel (Fisayo Akinade) yang jadi sumber dukungan hangat. Kate Winslet sebagai Julia menunjukkan kemampuan actingnya yang solid sekaligus arahan sutradara yang intim, dengan pendekatan kamera dekat yang menangkap emosi halus. Toni Collette membawa humor eksentrik sebagai Helen yang New Age, sementara Andrea Riseborough sebagai Molly memberikan kedalaman pada konflik saudara perempuan. Timothy Spall dan Johnny Flynn melengkapi dengan performa understated yang menyentuh—terutama Flynn sebagai Connor yang jadi penengah keluarga. Ensemble ini terasa seperti keluarga sungguhan: kaku, lucu, dan akhirnya saling mendukung. Momen-momen kecil seperti pencurian gigitan sandwich atau percakapan di koridor rumah sakit jadi highlight yang bikin film ini relatable dan emosional.
Kelebihan dan Kekurangan Film Goodbye June
Kelebihan terbesar adalah kejujuran emosional dan casting yang luar biasa—film ini berhasil menyentuh tema grief tanpa terasa memaksa, plus humor yang tepat sasaran membuatnya tak terlalu berat. Sebagai debut Winslet, arahan terasa tenang dan fokus pada aktor, dengan pendekatan intim seperti mikrofon kecil untuk suara alami. Inspirasi pribadi membuat cerita terasa autentik, terutama pesan tentang “goodbye yang baik” dan pentingnya hadir di saat sekarang. Namun, kekurangannya ada pada naskah yang terkadang predictable dan terlalu manis—beberapa momen akhir terasa contrived, seperti resolusi yang rapi dan sentimen berlebih yang mirip iklan Natal. Beberapa kritikus menyebutnya terlalu aman, dengan durasi yang kadang terasa panjang karena repetisi dinamika keluarga. Rating Rotten Tomatoes sekitar 66% mencerminkan penerimaan campur: dipuji karena hati yang tulus, tapi dikritik karena kurang inovatif.
Kesimpulan Goodbye June
adalah drama keluarga Natal yang menyentuh hati, cocok ditonton bersama orang terdekat di akhir tahun. Meski bukan karya masterpiece dan agak bertele-tele di bagian tengah, film ini berhasil jadi tontonan hangat yang mengingatkan betapa berharganya waktu bersama keluarga, terutama saat menghadapi kehilangan. Performanya kuat, emosinya jujur, dan akhirnya meninggalkan rasa haru positif—bukan sekadar air mata, tapi juga senyum atas cinta yang tetap ada. Bagi penggemar film seperti His Three Daughters atau drama keluarga Inggris yang intim, ini wajib tonton. Siapkan tisu, tapi juga siap untuk tertawa—karena itulah kehidupan, campur aduk tapi penuh makna. Selamat menonton, dan semoga liburanmu lebih bermakna!

