Review Film Yuni: Kisah Perempuan Banten yang Kuat

Review Film Yuni: Kisah Perempuan Banten yang Kuat

Review Film Yuni: Kisah Perempuan Banten yang Kuat. Yuni garapan Kamila Andini yang rilis 2021 tetap jadi salah satu drama Indonesia paling kuat dan relevan hingga kini. Berlatar di daerah pinggiran Banten dan Jawa Barat, film ini mengikuti perjuangan seorang gadis SMA berusia 16 tahun bernama Yuni yang bertekad mengejar pendidikan tinggi sambil menolak tekanan pernikahan dini. Dengan pendekatan lembut tapi tegas, Andini menyajikan potret perempuan muda yang gigih menghadapi norma patriarkal, mitos lokal, dan ekspektasi masyarakat—semua dibungkus dalam coming-of-age story yang autentik dan menyentuh. BERITA TERKINI

Kamila Andini, sutradara yang dikenal dengan karya-karya penuh nuansa seperti The Seen and Unseen, membawa visi feminis yang halus dalam film ketiganya ini. Dibintangi Arawinda Kirana sebagai Yuni—debut aktingnya yang memukau—film ini tayang perdana di Toronto International Film Festival 2021 dan langsung memenangkan Platform Prize. Ia juga menjadi perwakilan Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di Academy Awards 2022. Berlatar era kontemporer di masyarakat Muslim pedesaan, Yuni bukan sekadar cerita pribadi, tapi cerminan realitas banyak perempuan Indonesia yang masih bergulat dengan pilihan antara mimpi dan tradisi. Durasi 95 menit terasa pas, dengan ritme yang mengalir alami dan sinematografi Teoh Gay Hian yang memanfaatkan cahaya alami untuk menonjolkan keindahan sekaligus ketegangan.

Alur Cerita yang Relatable dan Berlayer: Review Film Yuni: Kisah Perempuan Banten yang Kuat

Yuni adalah gadis pintar, ambisius, dan suka warna ungu—simbol kebebasannya. Ia aktif di ekstrakurikuler, belajar keras demi beasiswa kuliah, dan punya mimpi besar. Namun, hidupnya berubah saat tiga pria berbeda melamarnya: pekerja pabrik sombong, pria paruh baya yang sudah menikah, dan guru kesayangannya Pak Damar yang ternyata punya rahasia. Penolakan Yuni terhadap lamaran pertama memicu gosip desa. Mitos lokal bilang menolak lebih dari dua lamaran berarti tak akan pernah menikah—tekanan yang membuatnya semakin terpojok.
Di tengah itu, Yuni menjalin hubungan rumit dengan Yoga, cowok pendiam di sekolah, dan mendapat dukungan dari sahabat Sarah serta Suci Cute yang jadi role model baginya. Puisi Sapardi Djoko Damono seperti “Hujan Bulan Juni” sering muncul sebagai narasi batin, menambah lapisan lirik dan emosional. Andini tak menjadikan siapa pun sebagai penjahat mutlak—semua karakter, termasuk nenek yang mendorong pernikahan atau tetangga yang ikut campur, digambarkan sebagai bagian dari sistem budaya yang lebih besar. Ini membuat konflik terasa nyata dan kompleks, bukan hitam-putih.

Penampilan dan Elemen Artistik yang Kuat: Review Film Yuni: Kisah Perempuan Banten yang Kuat

Arawinda Kirana membawa Yuni dengan naturalisme luar biasa—dari ekspresi polos saat bergurau dengan teman hingga rasa frustrasi yang terpendam. Neneng Risma sebagai Sarah memberikan momen ringan dan autentik, terutama adegan nongkrong di rumput sambil bicara terbuka soal cinta, seks, dan orgasme—bagian yang jarang dibahas terang-terangan di sinema Indonesia. Kevin Ardilova sebagai Yoga dan Dimas Aditya sebagai Pak Damar menambah kedalaman hubungan.
Sinematografi memanfaatkan lokasi pedesaan Banten dengan indah: hujan deras, cahaya matahari sore, dan ruang sempit rumah jadi metafor tekanan sosial. Editing Lee Chatametikool menjaga tempo cepat tapi tak terburu-buru, sementara musik dan sound design memperkuat nuansa emosional. Puisi Sapardi yang diintegrasikan dengan halus jadi penghormatan mendalam, terutama karena film ini didedikasikan untuk sang penyair yang wafat 2020.

Kesimpulan

Yuni adalah kisah perempuan Banten yang kuat—bukan karena kekerasan atau drama berlebih, tapi karena keteguhan hati menghadapi norma yang membatasi. Film ini berhasil jadi universal meski sangat spesifik budaya: bicara soal kebebasan perempuan, hak pendidikan, dan tekanan masyarakat yang masih relevan hari ini. Dengan pujian dari festival internasional dan penampilan debut Arawinda yang brilian, Yuni membuktikan sinema Indonesia bisa menyampaikan pesan kuat dengan cara lembut dan artistik. Bagi siapa saja yang ingin memahami perjuangan perempuan muda di tengah tradisi, ini tontonan wajib—menyentuh, menginspirasi, dan meninggalkan ruang untuk refleksi panjang.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *