Review Film The Wailing 2: Misteri & Teror Kembali. The Wailing 2 (judul resmi The Wailing: Resurrection) yang tayang sejak akhir 2025 langsung menjadi salah satu film horor Korea paling ditunggu dan kontroversial di awal 2026. Sekuel dari The Wailing (2016) karya Na Hong-jin ini membawa kembali Kwak Do-won sebagai Jong-goo dalam kapasitas cameo, sementara fokus utama jatuh pada generasi baru: seorang detektif muda bernama Hye-jin (Kim Go-eun) yang menyelidiki wabah misterius di desa yang sama. Film berdurasi 142 menit dengan rating 18+ berhasil menarik lebih dari 6,8 juta penonton di Korea Selatan dan meraup sekitar US$140 juta secara global hingga Januari 2026. Rating Rotten Tomatoes mencapai 81% dari kritikus dan 84% dari penonton. Dengan durasi panjang, atmosfer mencekam, dan misteri yang semakin kompleks, banyak yang bertanya: apakah sekuel ini berhasil mengembalikan teror psikologis The Wailing, atau malah terasa terlalu panjang dan kurang mengejutkan? BERITA TERKINI
Atmosfer dan Ketegangan yang Lebih Dalam di Film The Wailing 2: Review Film The Wailing 2: Misteri & Teror Kembali
Na Hong-jin mempertahankan kekuatan utama film pertama: ketegangan lambat yang menyesakkan. Desa terpencil di Gyeonggi-do kembali menjadi latar utama, tapi kali ini lebih gelap—hutan lebat yang basah, rumah-rumah kayu yang reyot, dan kabut tebal yang tidak pernah hilang. Penggunaan suara ambient sangat efektif: desis angin, langkah kaki di lumpur, dan bisikan samar yang semakin mendekat membuat penonton terus merinding. Adegan ritual dan penampakan makhluk supranatural dibuat lebih halus tapi lebih mengerikan—tidak ada jumpscare murahan, melainkan rasa takut yang menumpuk perlahan hingga meledak di babak akhir. Warna dingin abu-abu dan hijau gelap mendominasi, kontras dengan darah merah yang muncul di momen klimaks. Musik Jang Young-gyu dan Dalpalan menggunakan string rendah dan suara nyanyian shaman yang menghantui, memperkuat nuansa mistis Korea yang kental.
Performa Kim Go-eun dan Cast Utama The Wailing 2: Review Film The Wailing 2: Misteri & Teror Kembali
Kim Go-eun sebagai Hye-jin memberikan penampilan yang sangat kuat dan emosional—ia berhasil membawa karakter detektif yang skeptis tapi perlahan terjebak dalam ketakutan supranatural. Ekspresi wajahnya saat menyaksikan kejadian aneh dan saat ia mulai ragu pada akal sehatnya terasa sangat nyata dan menyakitkan. Kwak Do-won sebagai Jong-goo dalam cameo terasa sangat penting—penampilannya singkat tapi penuh beban trauma dari film pertama, membuat penonton lama merinding. Cast pendukung seperti Lee Do-hyun sebagai pemuda misterius dan Kim Hye-ja sebagai dukun desa juga tampil luar biasa—mereka berhasil menambah lapisan ketidakpastian dan rasa takut yang semakin dalam. Secara keseluruhan, performa cast terasa lebih matang dan emosional dibanding film pertama.
Kelemahan Pacing dan Perbandingan dengan Film Pertama
Meski atmosfer dan performa sangat kuat, film ini punya kelemahan di pacing yang terasa terlalu lambat di babak tengah. Setelah pembukaan yang intens, beberapa adegan investigasi dan dialog panjang terasa bertele-tele sebelum klimaks besar. Bagi penonton yang mencari horor cepat dan banyak kejutan, bagian tengah bisa terasa membosankan. Dibandingkan The Wailing (2016) yang sangat dinamis dengan twist besar dan ending yang mengejutkan, sekuel ini lebih lambat dan lebih fokus pada psikologi karakter—bagi sebagian penggemar ini terasa lebih dalam dan dewasa, tapi bagi yang mengharapkan teror yang lebih intens, bisa terasa kurang greget. Ada juga kritik bahwa beberapa misteri terlalu ambigu dan kurang memberikan jawaban yang memuaskan.
Respon Penonton dan Dampak
Penonton Indonesia menyambut sangat emosional—film ini laris di bioskop-bioskop besar, dengan banyak sesi malam yang penuh dan penonton yang keluar bioskop sambil berteriak atau saling cerita pengalaman. Box office domestik sudah melewati 4 juta penonton, sementara global US$140 juta menunjukkan sukses komersial yang solid untuk horor Korea. Di media sosial, klip adegan ritual dan momen paling mencekam jadi viral meski banyak yang beri trigger warning. Film ini juga berhasil membuka diskusi besar soal trauma kolektif, kepercayaan pada supranatural, dan bagaimana horor Korea bisa terus berkembang dengan cerita yang lebih dalam. Banyak yang bilang ini bukti bahwa horor Korea tidak lagi hanya mengandalkan jumpscare, tapi mulai punya kedalaman narasi yang layak diperhitungkan di level dunia.
Kesimpulan
The Wailing 2 adalah sekuel horor Korea yang berhasil naik level secara signifikan. Atmosfer lebih mencekam, performa Kim Go-eun dan cast lebih solid, serta misteri yang semakin kompleks membuat film ini layak disebut salah satu horor terbaik 2025. Meski pacing tengah agak lambat dan beberapa misteri terlalu ambigu, film ini tetap jadi tontonan yang sangat menegangkan dan emosional. Worth it? Ya—terutama kalau kamu penggemar horor psikologis dan sudah menonton The Wailing pertama. Kalau suka The Wailing, The Medium, atau Incantation, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan mata dan jantung, karena teror Korea kembali dengan cara yang lebih dalam dan lebih gelap. Film ini membuktikan bahwa horor Korea bisa terus berkembang—dan kali ini terasa lebih sadis serta lebih menyentuh. Layak dapat tempat spesial di daftar tontonan horor 2025–2026.

