Review Film The Housemaid: Thriller Sydney Sweeney Gagal? The Housemaid telah resmi rilis di bioskop pada 19 Desember 2025 oleh Lionsgate, dan kini tersedia di platform digital sejak awal 2026. Disutradarai Paul Feig dari novel bestseller Freida McFadden tahun 2022, film thriller psikologis ini dibintangi Sydney Sweeney sebagai Millie Calloway—seorang mantan narapidana yang berusaha memulai hidup baru—dan Amanda Seyfried sebagai Nina Winchester, nyonya rumah kaya yang misterius. Dengan durasi 131 menit dan rating R untuk kekerasan berdarah, konten seksual, serta nudity, cerita berpusat pada Millie yang diterima bekerja sebagai pembantu rumah tangga di mansion mewah keluarga Winchester di Long Island. Awalnya terasa seperti kesempatan emas, tapi lambat laun terungkap rahasia gelap, perselingkuhan, manipulasi, dan kekerasan. Trailer resmi yang rilis September 2025 langsung memicu antusiasme, tapi setelah tayang, film ini menuai respons campur aduk—beberapa memuji sebagai hiburan guilty pleasure bergaya 90-an, sementara yang lain merasa gagal memanfaatkan potensi penuh. Pertanyaannya: apakah thriller ini benar-benar gagal, atau justru sukses sebagai tontonan ringan yang addictive? BERITA BASKET
Plot dan Twist yang Berani di Film The Housemaid: Review Film The Housemaid: Thriller Sydney Sweeney Gagal?
Millie, yang sedang dalam masa percobaan dan butuh pekerjaan stabil, berhasil lolos wawancara dengan Nina—wanita ramah tapi aneh yang hidup bersama suaminya Andrew (Brandon Sklenar) dan anak perempuan mereka. Millie tinggal di loteng mansion yang hampir seluruhnya berwarna putih, dan awalnya semuanya terasa sempurna. Namun, seiring waktu, Millie terlibat dalam dinamika toksik: ketertarikan pada Andrew, rahasia Nina yang gelap, serta ancaman dari masa lalu Millie sendiri.
Adaptasi Rebecca Sonnenshine setia pada buku, dengan twist-twist yang mengejutkan—terutama di paruh akhir—yang membalik perspektif penonton. Ada elemen erotis, kekerasan domestik, dan permainan kekuasaan yang mengingatkan pada thriller 90-an seperti The Hand That Rocks the Cradle atau Basic Instinct, tapi dengan sentuhan modern. Konfliknya berkembang dari suspense lambat menjadi klimaks intens dengan kekerasan berdarah dan pengkhianatan. Beberapa penonton memuji bagaimana film ini berani mengeksplorasi tema trauma, manipulasi, dan penebusan, meski pacing awal terasa lambat dan beberapa twist terprediksi. Secara keseluruhan, plotnya entertaining dengan campuran humor hitam, seks, dan gore yang membuatnya terasa seperti guilty pleasure liburan akhir tahun.
Visual, Performa, dan Elemen Teknis Film The Housemaid Secara visual, film ini memanfaatkan estetika mansion mewah dengan pencahayaan dingin dan kontras warna putih yang menciptakan rasa tidak nyaman. Adegan-adegan intim dan kekerasan dieksekusi dengan gaya Feig yang energik—meski tidak sekomedi film-film sebelumnya seperti Spy—tetap ada sentuhan campy yang membuatnya fun. Soundtrack dan score mendukung ketegangan, dengan momen-momen jumpscare yang efektif.
Performa aktor jadi sorotan utama. Amanda Seyfried mencuri perhatian sebagai Nina—karakternya unhinged, manipulatif, dan penuh lapisan emosional yang membuat penonton terpaku. Seyfried berhasil membawa nuansa kompleks, dari ramah hingga gila, dan banyak yang menyebutnya sebagai MVP film ini. Sydney Sweeney sebagai Millie berusaha membawa simpati dan misteri, tapi beberapa kritik merasa penampilannya terlalu subdued atau wooden di awal, baru meledak di klimaks. Brandon Sklenar sebagai Andrew memberikan chemistry yang solid, sementara Michele Morrone sebagai groundskeeper Enzo dan Elizabeth Perkins sebagai ibu mertua menambah warna tanpa mendominasi. Secara keseluruhan, chemistry Sweeney-Seyfried terasa elektrik, meski tidak semua momen berhasil menyatu sempurna.
Kesimpulan
The Housemaid bukan thriller masterpiece yang revolusioner, tapi juga bukan kegagalan total. Ia berhasil sebagai hiburan pulpy yang wildly entertaining—penuh twist, seks, kekerasan, dan drama berlebihan yang mengingatkan era lurid thriller 90-an. Bagi penggemar novel Freida McFadden atau yang suka film seperti Gone Girl versi lebih ringan, ini tontonan addictive yang bikin ketagihan. Seyfried bersinar terang, sementara Sweeney memberikan performa yang cukup untuk membawa cerita, meski tidak selalu standout.
Dengan box office solid dan rencana sekuel (The Housemaid’s Secret) sudah diumumkan, film ini jelas punya daya tarik komersial. Jika kamu mencari thriller psikologis yang pintar dan mendalam, mungkin terasa kurang; tapi jika ingin sesuatu yang fun, trashy, dan penuh kejutan, The Housemaid layak ditonton—terutama bersama teman untuk diskusi panas pasca-tayang. Jangan percaya sepenuhnya label “gagal”; ini lebih ke arah sukses sebagai popcorn thriller yang nakal dan menghibur.

