Review Film Spaceman: Kesepian di Luar Angkasa. Film “Spaceman” yang tayang di Netflix sejak Maret 2024 menjadi salah satu proyek dramatis terbaru Adam Sandler, menjauh dari image komedinya yang ikonik. Disutradarai oleh Johan Renck, yang dikenal lewat serial “Chernobyl”, film ini diadaptasi dari novel “Spaceman of Bohemia” karya Jaroslav Kalfař. Sandler berperan sebagai Jakub Procházka, astronot Ceko pertama yang menjalani misi solo ke tepi tata surya, menghadapi kesepian mendalam di tengah kegelapan luar angkasa. Dengan durasi sekitar 108 menit, “Spaceman” mengeksplorasi tema introspeksi diri, retaknya pernikahan, dan misteri alam semesta melalui pertemuan tak terduga dengan makhluk asing. Carey Mulligan tampil sebagai Lenka, istri Jakub yang sedang hamil, sementara Paul Dano menyuarakan Hanuš, laba-laba raksasa alien yang menjadi teman bicara. Meski visualnya memukau dengan estetika retro-futuristik, film ini mendapat respons campuran: dianggap mendalam oleh sebagian, tapi lambat dan kurang engaging oleh yang lain. Di era di mana cerita luar angkasa seperti “Interstellar” masih membekas, “Spaceman” hadir sebagai meditasi pribadi yang lebih intim, meski tak selalu berhasil menarik penonton ke orbitnya. Bagi penggemar Sandler yang serius, seperti di “Uncut Gems”, ini adalah kesempatan melihat sisi lain aktor ini, dengan fokus pada emosi manusia di tengah kehampaan kosmos. REVIEW FILM
Sinopsis Cerita: Review Film Spaceman: Kesepian di Luar Angkasa
Cerita berlatar di masa depan dekat, di mana Republik Ceko mengirimkan misi ambisius ke Chopra Cloud, awan partikel misterius di tepi tata surya. Jakub Procházka, seorang astronot berpengalaman tapi rapuh secara emosional, dipilih untuk misi solo selama enam bulan. Ia meninggalkan Lenka, istrinya yang hamil, di Bumi, tapi hubungan mereka sudah retak sebelum peluncuran—Jakub terlalu fokus pada karir, sementara Lenka merasa diabaikan. Di kapal angkasa yang sunyi, Jakub bergulat dengan insomnia, halusinasi, dan panggilan video yang semakin tegang dengan Lenka, yang mulai mempertanyakan pernikahan mereka.
Konflik utama muncul ketika Jakub menemukan Hanuš, seekor laba-laba raksasa dari awal alam semesta, yang bisa membaca pikiran dan berbicara dengan suara lembut. Hanuš bukan ancaman; ia justru menjadi terapis tak resmi, mendorong Jakub menggali masa lalu: kenangan masa kecil, kematian orang tua, dan kesalahan dalam hubungannya. Melalui visi-visi yang dibagikan Hanuš, Jakub melihat momen-momen intim dari kehidupannya, termasuk pertengkaran dengan Lenka dan rahasia keluarga. Sementara itu, di Bumi, komisaris misi Tuma (Isabella Rossellini) dan teknisi Peter (Kunal Nayyar) berusaha menjaga kontak, tapi Jakub semakin terisolasi. Cerita klimaks di sekitar Chopra Cloud, di mana Jakub harus memilih antara misi ilmiah dan penebusan pribadi. Plot bergerak lambat, lebih seperti meditasi daripada aksi, dengan elemen sci-fi yang minim efek khusus bombastis. Meski predictable dalam resolusi emosionalnya, narasi ini berhasil menyentuh isu universal seperti kesepian, pengampunan, dan pencarian makna di tengah kekosongan.
Penampilan Para Pemain: Review Film Spaceman: Kesepian di Luar Angkasa
Adam Sandler menjadi pusat gravitasi film ini, memberikan performa yang terkendali dan melankolis sebagai Jakub. Berbeda dari peran konyolnya di “Happy Gilmore”, Sandler di sini tampil serius, menyampaikan kesepian melalui ekspresi wajah dan monolog internal yang minim dialog. Ia berhasil membuat penonton merasakan beban isolasi, meski kadang terasa monoton karena pacing lambat. Ini adalah kolaborasi kedua Sandler dengan Netflix setelah “Hustle”, dan ia membuktikan kemampuan dramatisnya, meski tak seintens di “Uncut Gems”.
Carey Mulligan sebagai Lenka menambahkan kedalaman emosional, meski waktu layarnya terbatas pada panggilan video. Mulligan, pemenang Oscar nominasi dari “Promising Young Woman”, membawa nuansa frustrasi dan kerinduan yang autentik, membuat hubungan pasangan ini terasa nyata. Paul Dano sebagai suara Hanuš adalah pilihan brilian: suaranya yang lembut dan filosofis membuat laba-laba itu terasa bijaksana, bukan menyeramkan, dengan CGI yang cukup meyakinkan untuk makhluk berbulu itu. Kunal Nayyar, dikenal dari “The Big Bang Theory”, tampil sebagai Peter dengan sentuhan humor ringan, sementara Isabella Rossellini sebagai Tuma memberikan otoritas dingin yang kontras dengan kekacauan emosional Jakub.
Secara keseluruhan, ensemble cast saling mendukung, dengan fokus utama pada interaksi Jakub dan Hanuš yang seperti sesi terapi. Sutradara Renck memanfaatkan close-up dan pencahayaan gelap untuk memperkuat rasa klaustrofobia, meski performa para pemain kadang terganggu oleh skrip yang terlalu introspektif. Sandler dan Dano menjadi duo tak terduga yang membuat film ini lebih dari sekadar drama luar angkasa biasa.
Respons Kritikus dan Penonton
Respons terhadap “Spaceman” cukup polarisasi, mencerminkan ambisi film yang tak selalu terpenuhi. Di Rotten Tomatoes, skor kritikus berada di sekitar 49 persen, dengan pujian atas performa Sandler yang disebut sebagai salah satu yang terbaik dalam karir dramatisnya, tapi kritik atas pacing lambat yang membuatnya terasa membosankan. Beberapa kritikus seperti dari Roger Ebert memuji estetika visual dan tema mendalam tentang kesepian, menyebutnya sebagai “odysei ruang angkasa yang sedih” yang mirip “Solaris” tapi lebih accessible. Namun, yang lain menganggapnya sebagai upaya gagal meniru “Interstellar” atau “Ad Astra”, dengan dialog filosofis yang berat dan kurang aksi untuk menjaga minat.
Penonton lebih bervariasi, dengan skor audiens sekitar 46 persen di Rotten Tomatoes dan rating IMDb 5.7 dari puluhan ribu ulasan. Banyak yang memuji sebagai tontonan introspektif yang pas untuk mood tenang, terutama chemistry Sandler dengan suara Dano yang dianggap unik. Di media sosial, diskusi ramai tentang apakah ini “Sandler serius” yang sukses atau kegagalan Netflix, dengan beberapa membandingkannya dengan “The Midnight Sky” karena tema isolasi. Kritik umum termasuk CGI laba-laba yang kadang cheesy dan akhir yang bittersweet tapi predictable. Meski demikian, film ini sukses streaming, masuk top 10 Netflix di banyak negara saat rilis, menandakan daya tarik bagi penggemar sci-fi cerebral. Secara keseluruhan, “Spaceman” lebih cocok untuk mereka yang menyukai drama lambat daripada blockbuster aksi, dengan respons yang menunjukkan potensi kultus di masa depan.
Kesimpulan
“Spaceman” adalah eksplorasi kesepian di luar angkasa yang ambisius, meski tak sepenuhnya mencapai orbitnya karena pacing lambat dan narasi introspektif yang berat. Dengan Adam Sandler yang tampil solid dan elemen sci-fi unik seperti laba-laba alien, film ini menawarkan meditasi tentang hubungan manusia di tengah kehampaan. Bagi yang mencari cerita emosional tanpa ledakan besar, ini adalah pilihan menarik di katalog Netflix. Pada akhirnya, “Spaceman” mengingatkan bahwa kesepian bukan hanya soal jarak fisik, tapi juga emosional—pesan yang relevan di dunia modern yang semakin terhubung tapi terisolasi. Meski bukan masterpiece, ia layak ditonton untuk melihat sisi lain Sandler dan renungan singkat tentang alam semesta dalam diri kita.
