Review Film Pamali Dusun Pocong: Teror Pocong di Desa. Pamali Dusun Pocong (2024), film horor karya sutradara Rako Prijanto yang tayang 5 September 2024, masih menjadi salah satu film horor lokal paling ramai dibicarakan hingga Februari 2026. Hampir setengah tahun setelah rilis, film ini telah mencatat lebih dari 3,4 juta penonton di bioskop dan terus menduduki posisi atas daftar tontonan horor di platform streaming. Berlatar sebuah dusun terpencil di Jawa Tengah, cerita mengikuti sekelompok pemuda kota yang nekat menginap di rumah tua milik keluarga teman mereka, tanpa menyadari bahwa desa itu menyimpan pamali kuno: jangan menginjak tanah pekuburan pocong di malam hari. Di balik jumpscare dan teror pocong klasik, film ini sebenarnya adalah potret tentang pelanggaran adat, rasa takut kolektif masyarakat desa, dan konsekuensi ketika generasi muda menganggap remeh tradisi leluhur. INFO CASINO
Teror Pocong yang Dibangun Secara Bertahap: Review Film Pamali Dusun Pocong: Teror Pocong di Desa
Cerita dimulai ketika empat sahabat—Raka (Abidzar Al Ghifari), Dita (Zara JKT48), Bayu (Jefri Nichol), dan Lila (Aghniny Haque)—mendapat undangan dari teman kuliah mereka untuk menginap di rumah kakeknya di dusun terpencil selama libur panjang. Awalnya semuanya terasa biasa: rumah kayu tua, sawah luas, dan warga desa yang ramah tapi pendiam. Namun malam pertama, mereka secara tidak sengaja melanggar pamali: menginjak area pekuburan pocong yang ditandai batu bata merah dan kain kafan putih.
Teror pocong tidak langsung muncul dengan jumpscare murahan. Rako Prijanto membangun ketegangan secara bertahap: suara kain kafan bergesek di malam hari, bayangan tinggi bergerak di antara pohon kelapa, dan bau tanah basah yang tiba-tiba tercium di dalam rumah. Warga desa mulai bertingkah aneh—menghindari kontak mata, memasang jimat di pintu, dan berbisik tentang “pocong yang bangun karena dilanggar pamalinya”. Ketika salah satu dari mereka mulai mengalami gangguan berat (mimpi buruk, luka misterius, dan suara tangisan bayi), kelompok itu baru sadar bahwa mereka telah membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap diam.
Atmosfer Desa dan Efek Horor yang Efektif: Review Film Pamali Dusun Pocong: Teror Pocong di Desa
Film ini sangat berhasil menangkap atmosfer desa Jawa yang gelap dan menyeramkan: malam tanpa listrik, suara jangkrik yang tiba-tiba berhenti, dan kabut tipis di sawah saat fajar. Sinematografi menggunakan warna-warna dingin dan kontras tinggi untuk menonjolkan rasa asing yang dirasakan para pemuda kota. Adegan pocong muncul secara minim tapi sangat efektif—gerakan kain kafan yang lambat, bayangan tinggi di kejauhan, dan suara “krek-krek” yang khas—semua dirancang untuk membuat bulu kuduk merinding tanpa bergantung pada CGI berlebihan.
Penampilan Abidzar Al Ghifari sebagai Raka memberikan sentuhan emosional yang kuat—seorang pemuda kota yang awalnya skeptis tapi akhirnya menjadi orang pertama yang percaya dan berusaha mencari jalan keluar. Zara JKT48 sebagai Dita membawa energi ceria yang perlahan berubah menjadi ketakutan nyata, sementara Jefri Nichol dan Aghniny Haque menambah dinamika kelompok yang realistis: saling salahkan, saling lindungi, dan akhirnya saling menguatkan.
Makna Lebih Dalam: Hormati Adat, Jangan Anggap Relevan
Di balik teror pocong, film ini menyampaikan pesan kuat tentang penghormatan terhadap adat dan tradisi leluhur. Pamali dusun bukan sekadar takhayul; ia adalah bentuk perlindungan kolektif masyarakat terhadap hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Generasi muda yang menganggap remeh tradisi sering kali menjadi korban pertama ketika batas antara dunia nyata dan gaib dilanggar. Film ini juga menyentil tema bahwa rasa takut kolektif masyarakat desa sering kali lebih berbahaya daripada makhluk gaib itu sendiri—ketika warga mulai curiga terhadap pendatang, paranoia bisa berubah menjadi kekerasan.
Banyak penonton merasa film ini seperti pengingat bahwa di tengah modernisasi, adat dan kepercayaan lokal masih punya makna penting—bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dihormati.
Kesimpulan
Pamali Dusun Pocong adalah film horor yang langka: menyeramkan sekaligus sangat manusiawi, tradisional tapi relevan, dan efektif tanpa bergantung pada jumpscare murahan. Kekuatan utamanya terletak pada atmosfer desa Jawa yang gelap dan mencekam, penampilan solid Abidzar Al Ghifari dan kawan-kawan, serta pesan bahwa melanggar pamali bukan hanya soal takhayul, melainkan soal menghormati keseimbangan antara manusia dan alam gaib. Film ini berhasil menjadi cermin bagi generasi muda yang sering menganggap remeh tradisi leluhur. Di tengah banjir film horor yang mengandalkan hantu visual berlebihan, Pamali Dusun Pocong menawarkan ketegangan yang lambat tapi menyeramkan serta nilai budaya yang kuat. Jika kamu mencari horor Indonesia yang membuat bulu kuduk merinding sekaligus merenung tentang adat dan tradisi, film ini sangat direkomendasikan. Pamali Dusun Pocong bukan sekadar film teror pocong; ia adalah potret tentang konsekuensi ketika generasi muda mengabaikan warisan leluhur. Dan itu, pada akhirnya, adalah makna paling kuat dari sebuah film horor lokal.
