Review Film Losmen Bu Broto: Film Jadul bikin Nostalgia. Losmen Bu Broto tayang di bioskop Indonesia pada 18 November 2021, menjadi salah satu film drama keluarga yang langsung membangkitkan rasa nostalgia kuat. Diadaptasi dari serial TVRI legendaris Losmen era 1980-an, film ini disutradarai Ifa Isfansyah dan Eddie Cahyono, dengan durasi 113 menit yang terasa hangat dan membumi. Cerita berfokus pada kehidupan sehari-hari keluarga Broto yang mengelola losmen tua di Yogyakarta, penuh konflik kecil tapi menyentuh hati. Dengan latar jadul yang kental—bangunan tradisional, perabot kayu, dan suasana Jawa klasik—film ini seperti mesin waktu yang membawa penonton kembali ke masa lalu, saat keluarga besar masih menjadi pusat kehangatan. Meski plot sederhana, eksekusi halus dan akting solid membuatnya jadi tontonan yang nyaman, terutama bagi yang rindu era tanpa gadget mendominasi hidup. BERITA VOLI
Alur Cerita dan Plot: Review Film Losmen Bu Broto: Film Jadul bikin Nostalgia
Kisah dimulai dari losmen milik Bu Broto dan Pak Broto, yang dikelola bersama anak-anak mereka: Pur, Sri, dan yang lain. Losmen ini bukan sekadar penginapan, tapi rumah bagi banyak orang—tamu tetap, karyawan setia, dan keluarga sendiri. Konflik muncul ketika masalah internal keluarga bertabrakan dengan tantangan mengelola bisnis kecil di tengah perubahan zaman. Ada drama seputar tanggung jawab anak-anak, rahasia keluarga, dan interaksi dengan tamu yang membawa cerita hidup mereka sendiri. Plot mengalir lambat tapi penuh detail, seperti kehidupan sehari-hari: sarapan di meja makan besar, obrolan di teras, hingga malam-malam penuh cerita. Hampir semua konflik diselesaikan di meja makan, simbol kebersamaan keluarga Jawa. Tidak ada twist besar atau aksi dramatis, tapi justru kekuatannya ada di keaslian—penonton diajak merasakan emosi sederhana seperti senang, marah, malu, dan sedih. Bagian akhir memberikan resolusi yang hangat, meski beberapa momen terasa terburu-buru. Secara keseluruhan, cerita ini seperti potret keluarga biasa yang penuh cinta, tapi tidak sempurna, membuatnya relatable dan menyentuh.
Pemeran dan Penampilan: Review Film Losmen Bu Broto: Film Jadul bikin Nostalgia
Maudy Koesnaedi sebagai Bu Broto menjadi jantung film ini. Ia memerankan ibu rumah tangga yang tegas tapi penuh kasih, dengan ekspresi halus yang menyampaikan beban dan kehangatan sekaligus. Mathias Muchus sebagai Pak Broto memberikan dukungan solid sebagai suami pendiam tapi bijak. Putri Marino sebagai Pur menunjukkan range luar biasa—dari gadis ceria penuh cinta hingga hancur karena kehilangan—dan penampilannya memenangkan Citra Award Best Supporting Actress. Maudy Ayunda, Baskara Mahendra, dan pemeran lain seperti Ayushita serta Febby Rastanty melengkapi keluarga dengan chemistry alami. Interaksi antar saudara terasa autentik, seperti keluarga sungguhan yang saling dukung tapi juga bertengkar. Pemeran pendukung, termasuk tamu losmen, menambah warna tanpa mencuri perhatian. Secara keseluruhan, akting ensemble ini jadi kekuatan utama—mereka tidak berlebihan, tapi justru membuat emosi terasa nyata dan hangat. Visual film juga kuat, dengan sinematografi yang menangkap detail losmen tua: jendela kayu, lampu temaram, dan suasana Yogyakarta yang kental.
Elemen Nostalgia dan Kehangatan
Judul “film jadul bikin nostalgia” sangat pas karena Losmen Bu Broto sengaja membangkitkan kenangan era 80-an dan 90-an. Latar losmen tradisional, pakaian batik, makanan rumahan, dan cara berkomunikasi langsung tanpa HP membuat penonton merasa pulang ke rumah lama. Ada nuansa slice-of-life yang kuat—cerita tentang keluarga mengelola bisnis kecil, menghadapi tamu aneh, dan menjaga harmoni di tengah masalah. Komedi muncul dari situasi sehari-hari yang ringan, sementara drama datang dari konflik emosional yang realistis, seperti tanggung jawab anak sulung atau rahasia yang terungkap. Film ini juga menyentuh budaya Jawa: adab, gotong royong, dan nilai keluarga yang masih relevan. Meski ada kritik soal pacing lambat atau resolusi kurang mendalam, kehangatannya membuat kekurangan itu terlupakan. Banyak penonton bilang menontonnya seperti memeluk keluarga sendiri—tidak sempurna, tapi penuh rasa nyaman dan pleasantness.
Kesimpulan
Losmen Bu Broto adalah film drama keluarga Indonesia yang sukses membangkitkan nostalgia tanpa terasa dipaksakan. Dengan cerita sederhana, akting hangat dari Maudy Koesnaedi, Mathias Muchus, Putri Marino, dan lainnya, plus latar jadul yang autentik, film ini jadi tontonan yang menyentuh hati dan membumi. Cocok untuk ditonton bersama keluarga atau saat ingin merasakan kehangatan masa lalu di tengah hiruk-pikuk sekarang. Meski bukan film blockbuster dengan plot rumit, ia berhasil memberikan rasa pulang dan kebersamaan yang langka. Skor keseluruhan: 8/10, film yang membuat Anda tersenyum dan mungkin rindu kampung halaman.
