review-film-goemon

Review Film Goemon

Review Film Goemon. Film Goemon yang dirilis pada 2009 masih sering dibahas sebagai salah satu petualangan ninja paling visual memukau dari Jepang. Disutradarai oleh Kazuaki Kiriya, cerita ini terinspirasi bebas dari legenda Ishikawa Goemon—pencuri legendaris era Sengoku yang mirip Robin Hood. Dibintangi Yosuke Eguchi sebagai Goemon, ninja ahli yang curi kotak misterius dari tuannya, film ini campur aksi spektakuler, drama politik, dan elemen fantasi dengan budget besar. Dengan durasi sekitar 128 menit, Goemon tawarkan hiburan epik yang penuh gaya, meski kadang terasa berlebihan. INFO TOGEL

Plot dan Karakter Utama: Review Film Goemon

Cerita Goemon berlatar Jepang abad ke-16 pasca kematian Nobunaga, saat Hideyoshi Toyotomi kuasai negara dan rencanakan invasi Korea. Goemon, yang dulu anak jalanan dilatih ninja oleh tuannya, kini jadi pencuri ulung yang curi dari kaya untuk beri ke miskin. Saat ia curi kotak Pandora misterius dari Hideyoshi, kotak itu ternyata kunci rahasia besar yang bisa ubah sejarah. Goemon dikejar sahabat lamanya Kirigakure Saizo—ninja bayaran—dan terlibat konflik dengan Tokugawa Ieyasu serta Hattori Hanzo. Karakter Goemon digambarkan karismatik tapi tragis, dengan masa lalu kelam dan loyalitas terbagi. Eihi Shiina sebagai courtesan Chacha dan Ryoko Kuninaka sebagai putri Nobunaga tambah lapisan romance serta intrik politik. Plotnya penuh twist, pengkhianatan, dan tema keadilan sosial, meski longgar dari sejarah asli.

Visual dan Aksi yang Spektakuler: Review Film Goemon

Kekuatan utama Goemon ada pada visualnya yang megah: Kiriya pakai CGI ekstensif untuk ciptakan dunia fantasi feodal—kastil terapung, pertarungan di atap dengan wire-fu gila, dan ledakan besar ala blockbuster. Adegan ikonik seperti Goemon lompat dari tebing sambil lawan ratusan prajurit, atau duel Saizo di hujan deras, penuh slow-motion dramatis dan efek partikel. Koreografi aksi campur ninjutsu klasik dengan elemen wuxia—pedang terbang, lompat tinggi, dan ilusi kabut—dengan budget sekitar 9 juta dolar yang terlihat di layar. Musik dari Naoki Sato beri nuansa epik, sementara kostum warna-warni dan set megah bikin film ini terasa seperti lukisan hidup. Meski CGI kadang terlihat dated sekarang, gaya stylized-nya tetap impresif dan beda dari film jidaigeki biasa.

Pemeran dan Resepsi Penonton

Yosuke Eguchi tampil karismatik sebagai Goemon—fisik lincah, ekspresi dingin tapi penuh api. Takao Osawa sebagai Saizo beri kontras sebagai sahabat-musuh yang kompleks, sementara Eihi Shiina dan Ryoko Kuninaka tambah daya tarik visual. Pemeran pendukung seperti Tetsuji Tamayama sebagai Hattori Hanzo dan Susumu Terajima sebagai Tokugawa beri bobot politik. Saat rilis, film ini sukses besar di Jepang dengan pendapatan sekitar 30 juta dolar, tapi di luar Asia kurang dikenal karena distribusi terbatas. Kritikus campur: banyak puji visual dan aksi, tapi kritik plot berantakan dan terlalu panjang. Penonton suka elemen fantasi serta pesan anti-keserakahan, meski akhir tragis ala legenda Goemon terasa klise.

Kesimpulan

Goemon adalah film petualangan ninja yang berani gabungkan sejarah longgar dengan fantasi visual megah, hasilkan hiburan epik yang tak terlupakan. Meski plot kadang berlebih dan CGI mulai usang, kekuatan aksi spektakuler, performa Eguchi, serta gaya Kiriya bikin film ini tetap layak ditonton ulang. Bagi penggemar jidaigeki fantasi atau aksi ala 300 versi Jepang, ini wajib—bukti bahwa ninja bisa jadi superhero feodal dengan cara stylish dan menghibur. Di tahun 2026, ia masih punya tempat sebagai salah satu blockbuster ninja paling ambisius era 2000-an.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *