Review Film Galih dan Ratna. Film Galih dan Ratna yang dirilis pada 2017 kembali menjadi perbincangan di awal 2026. Remake modern dari klasik Gita Cinta dari SMA tahun 1979 ini sering ditayangkan ulang di platform digital, membangkitkan nostalgia cinta remaja dengan sentuhan musik. Saat pertama tayang, karya ini mendapat respons campuran tapi berhasil menarik perhatian generasi muda dengan tema mimpi dan passion di era digital. Kini, kisah Galih dan Ratna masih terasa segar, terutama bagi penonton yang suka drama romantis ringan tapi penuh makna tentang mengejar impian. BERITA VOLI
Plot dan Karakter Utama: Review Film Galih dan Ratna
Cerita berlatar Bogor, mengikuti Ratna, siswi pindahan dari Jakarta yang tinggal bersama tantenya karena ayahnya bertugas di luar negeri. Di sekolah baru, ia bertemu Galih, pemuda pendiam berprestasi yang sering mendengarkan mixtape warisan ayahnya melalui walkman. Galih berjuang mempertahankan toko kaset keluarga yang bangkrut, sementara Ratna punya bakat menulis lagu tapi kurang dukungan. Pertemuan sederhana di lapangan sekolah memicu hubungan mereka, diwarnai dukungan saling mimpi meski ada konflik keluarga.
Refal Hady memerankan Galih dengan natural, menampilkan sosok introvert tapi idealis. Sheryl Sheinafia sebagai Ratna energik dan relatable sebagai gadis berbakat. Karakter pendukung seperti tante Ratna yang ceria diperankan Marissa Anita, ibu Galih oleh Ayu Dyah Pasha, serta cameo Rano Karno dan Yessy Gusman menambah nuansa nostalgia. Chemistry Refal dan Sheryl terasa manis, membuat penonton ikut terbawa proses jatuh cinta yang gradual.
Elemen Musik dan Nostalgia: Review Film Galih dan Ratna
Galih dan Ratna menonjol dengan integrasi musik sebagai elemen utama, dari mixtape kaset hingga lagu-lagu radikal yang menginspirasi. Ini jadi simbol passion di tengah era digital, kontras dengan walkman jadul yang dipakai Galih. Nostalgia kuat hadir melalui latar SMA Bogor, toko kaset, serta aransemen ulang lagu klasik dari film asli. Film ini seperti tribute manis untuk generasi lama sekaligus pengenalan bagi millennials tentang cinta polos tanpa gadget berlebih.
Disutradarai Lucky Kuswandi, karya ini menyajikan visual sendu dengan sinematografi Bogor yang hangat. Elemen musikal membuat adegan romantis lebih hidup, terutama saat Ratna menyanyi atau mereka bertukar playlist, memberikan nuansa poetis tentang mengejar mimpi bersama.
Kelebihan dan Kritik
Film ini dipuji karena pendekatan modern yang segar, performa aktor pendatang baru yang meyakinkan, serta pesan tentang keberanian bermimpi meski ada tekanan keluarga. Banyak penonton menghargai karakter relatable dan humor ringan dari pendukung, plus cameo ikonik yang obati rindu generasi lama. Visual dan musik jadi kekuatan utama yang membuat cerita memorable.
Di sisi lain, beberapa kritik bilang plot agak lambat dan konflik kurang greget dibanding ekspektasi remake. Chemistry awal terasa biasa, serta alur kadang predictable bagi yang tahu versi asli. Meski begitu, kekurangan ini tak mengurangi kesan sebagai drama remaja berkualitas dengan sentuhan hipster.
Kesimpulan
Galih dan Ratna berhasil menghidupkan kembali kisah cinta klasik dengan cara kekinian yang menyentuh. Di awal 2026 ini, tayangan ulangnya mengingatkan bahwa mimpi seperti mixtape—sederhana tapi penuh makna, butuh keberanian untuk dibagikan. Dengan akting natural, elemen musik kuat, dan pesan inspiratif, film ini layak ditonton ulang bagi yang rindu romansa remaja polos. Secara keseluruhan, ini adalah remake manis yang abadi, cocok untuk generasi baru merasakan kehangatan cinta pertama di tengah tuntutan dewasa.

