Review Film The Princess Bride. Film The Princess Bride yang dirilis pada tahun 1987 telah menjadi kultus klasik yang dicintai lintas generasi, menggabungkan petualangan, romansa, komedi, dan dongeng dalam satu paket menghibur, dengan cerita yang dibingkai sebagai kakek membacakan buku untuk cucunya yang sakit, sehingga mengisahkan Buttercup yang cantik dan Westley, kekasihnya yang setia, dalam perjalanan penuh rintangan di kerajaan fiktif Florin dan Guilder. BERITA BASKET
Alur Cerita dan Karakter Ikonik: Review Film The Princess Bride
Cerita mengikuti Westley yang berpetualang demi kekayaan untuk menikahi Buttercup, namun dikabarkan mati oleh bajak laut, memaksa Buttercup bertunangan dengan Pangeran Humperdinck yang licik, hingga Westley kembali sebagai Dread Pirate Roberts dan bergabung dengan Inigo Montoya yang pendendam serta Fezzik si raksasa baik hati untuk menyelamatkannya, dengan momen-momen epik seperti duel tebing, hutan api, dan rencana balas dendam yang dikemas penuh humor serta dialog legendaris yang mudah diingat.
Penampilan Aktor dan Produksi: Review Film The Princess Bride
Penjiwaan para aktor menjadi kekuatan utama, di mana Cary Elwes sebagai Westley tampil karismatik dengan pesona romantis yang sempurna, Robin Wright sebagai Buttercup menghadirkan keanggunan dan kekuatan batin, sementara Mandy Patinkin sebagai Inigo Montoya mencuri perhatian dengan intensitas emosional pada frasa ikoniknya, didukung André the Giant sebagai Fezzik yang endearing serta Wallace Shawn sebagai Vizzini yang lucu, dengan produksi sederhana namun efektif melalui set fantasi yang menawan, kostum periode ringan, dan sinematografi yang mendukung nuansa dongeng tanpa berlebihan.
Tema dan Kutipan Abadi
Film ini mengeksplorasi tema cinta sejati yang tak tergoyahkan, persahabatan lintas perbedaan, serta balas dendam yang manusiawi, dengan pesan bahwa hidup bukan selalu adil tapi bisa dihadapi dengan keberanian dan humor, diselingi kutipan abadi seperti “As you wish”, “Inconceivable!”, dan “Hello, my name is Inigo Montoya. You killed my father. Prepare to die.” yang kini menjadi bagian budaya pop, sehingga terasa ringan namun mendalam tanpa terlalu serius.
Kesimpulan
The Princess Bride tetap menjadi tontonan sempurna yang menghibur sekaligus menghangatkan hati berkat keseimbangan brilian antara genre, penampilan aktor yang memorable, dialog cerdas, serta akhir bahagia yang memuaskan, meski usianya hampir empat dekade, film ini terus menarik penonton baru sebagai dongeng modern yang timeless, sangat direkomendasikan untuk malam santai bersama keluarga atau teman demi merasakan keajaiban petualangan romantis yang tak lekang oleh waktu.

