Review Film There Will Be Blood: Ambisi Minyak yang Gelap

Review Film There Will Be Blood: Ambisi Minyak yang Gelap

Review Film There Will Be Blood: Ambisi Minyak yang Gelap. There Will Be Blood karya Paul Thomas Anderson yang tayang pada 2007 tetap menjadi salah satu film paling kuat dan gelap dalam sejarah sinema Amerika modern. Berlatar di California awal abad ke-20, film ini mengikuti Daniel Plainview (Daniel Day-Lewis), seorang prospector minyak yang haus kekayaan dan kekuasaan, yang mulai dari pengeboran manual hingga membangun kerajaan bisnis raksasa. Dengan durasi sekitar 158 menit, Anderson menciptakan epik karakter yang lambat membara, penuh ketegangan psikologis, dan tanpa kompromi—menggambarkan bagaimana ambisi tanpa batas bisa menghancurkan segala yang disentuhnya. Hampir dua dekade kemudian, di tengah diskusi tentang kapitalisme ekstraktif, keserakahan korporasi, dan dampak lingkungan pada 2026, There Will Be Blood terasa lebih tajam dan relevan daripada saat pertama rilis—sebuah potret ambisi manusia yang tak pernah kehilangan kekuatannya. BERITA TERKINI

Sinematografi dan Penampilan yang Mengintimidasi di Film There Will Be Blood: Review Film There Will Be Blood: Ambisi Minyak yang Gelap

Paul Thomas Anderson dan sinematografer Robert Elswit membangun visual yang sangat kontras dan menindas. Adegan pembukaan—Daniel sendirian menambang perak di lubang sempit, diiringi suara palu dan napas berat—langsung menetapkan nada: kesunyian yang mencekam, kekerasan fisik, dan kesendirian yang menjadi ciri sepanjang film. Lanskap California yang luas dan gersang difilmkan dengan lensa anamorfik, membuat setiap horizon terasa tak berujung sekaligus mengancam. Close-up wajah Daniel Day-Lewis—dari mata yang dingin hingga ekspresi penuh amarah—menjadi senjata utama film ini. Day-Lewis menghidupkan Plainview dengan intensitas yang menakutkan: suara serak yang berubah dari tenang menjadi menggelegar, gerakan tubuh yang berat namun penuh ancaman, dan senyum tipis yang lebih menyeramkan daripada teriakan. Musik Jonny Greenwood yang dissonan—dari nada string yang melengking hingga suara perkusi yang seperti detak jantung gelisah—memperkuat rasa kegelisahan tanpa pernah menjadi latar belakang biasa. Semua elemen ini bekerja bersama untuk membuat penonton merasa terkurung dalam ambisi Plainview yang tak pernah puas.

Tema Ambisi, Agama, dan Kehancuran Diri dari Film There Will Be Blood: Review Film There Will Be Blood: Ambisi Minyak yang Gelap

Inti There Will Be Blood adalah studi karakter tentang ambisi yang menghancurkan. Daniel Plainview bukan penjahat kartun; ia adalah manusia yang sangat cerdas, pekerja keras, tapi juga sangat egois—ia melihat dunia sebagai ladang minyak yang harus diekstrak, termasuk orang-orang di sekitarnya. Konflik utama muncul melalui Eli Sunday (Paul Dano), pendeta muda yang karismatik dan manipulatif—dua bentuk kekuasaan yang saling bertabrakan: kekuasaan ekonomi versus kekuasaan spiritual. Adegan “I drink your milkshake” di akhir film menjadi salah satu monolog paling ikonik dalam sinema—simbol Plainview yang “memakan” segalanya, termasuk iman dan kemanusiaan orang lain. Film ini tidak memberikan penebusan atau moral yang mudah; Plainview akhirnya sendirian di mansion mewahnya, dikelilingi kekayaan tapi kosong dari segala hubungan manusiawi. Di era sekarang, ketika ekstraksi sumber daya alam masih jadi isu besar dan ambisi korporasi sering kali mengorbankan lingkungan serta komunitas, There Will Be Blood terasa seperti peringatan yang belum usai: kekayaan tanpa batas sering kali datang dengan kehancuran total, termasuk kehancuran diri sendiri.

Warisan dan Pengaruh yang Abadi: Review Film There Will Be Blood: Ambisi Minyak yang Gelap

There Will Be Blood memenangkan dua Academy Award—Best Actor untuk Daniel Day-Lewis dan Best Cinematography—serta mendapat nominasi Best Picture dan Best Director. Film ini menjadi salah satu karya paling dipuji dalam dekade 2000-an dan sering masuk daftar “film terbaik abad 21” di berbagai polling kritikus. Pengaruhnya terasa di banyak film selanjutnya yang mengeksplorasi ambisi dan kekerasan kapitalisme—dari There Will Be Blood sendiri yang menginspirasi karya seperti The Wolf of Wall Street, The Revenant, hingga serial seperti Succession. Restorasi 4K yang dirilis beberapa tahun lalu membuat detail lanskap gurun dan ekspresi wajah Day-Lewis semakin tajam, dan penayangan ulang di bioskop arthouse terus laris. Di 2026, ketika diskusi tentang ekstraksionisme, kesenjangan kekayaan, dan dampak psikologis ambisi semakin intens, film ini sering disebut kembali sebagai salah satu potret paling gelap dan jujur tentang sifat manusia.

Kesimpulan

There Will Be Blood adalah epik karakter yang gelap, megah, dan tak kenal ampun—sebuah potret ambisi yang menghancurkan segalanya, termasuk diri sendiri. Paul Thomas Anderson, dengan sinematografi yang luar biasa dan penampilan Daniel Day-Lewis yang tak tertandingi, berhasil menciptakan film yang lambat tapi tak pernah membosankan, penuh kekerasan tapi sangat psikologis. Hampir dua dekade berlalu, film ini masih relevan karena mengingatkan bahwa kekayaan dan kekuasaan sering kali datang dengan harga yang terlalu mahal—kehancuran moral, hubungan, dan kemanusiaan. Jika Anda belum menonton ulang atau baru pertama kali, siapkan diri untuk pengalaman yang intens dan tak nyaman—matikan lampu, naikkan volume, dan biarkan Anderson membawa Anda ke ladang minyak California yang tak pernah puas. Karena di akhir film, ketika “I drink your milkshake” bergema, Anda mungkin akan bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh mana ambisi saya sendiri? Sebuah film yang tak hanya menghibur, tapi juga mengguncang dan membuat kita berpikir panjang.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *