Review Film Joyland: Romansa Pakistan yang Berani. Joyland (2022) karya Saim Sadiq tetap menjadi salah satu film paling berani dan penting yang keluar dari sinema Pakistan dalam beberapa tahun terakhir. Hampir tiga tahun setelah rilis, film ini masih sering disebut sebagai terobosan besar karena berhasil menyentuh isu transgender, patriarki, dan seksualitas dalam masyarakat konservatif dengan cara yang lembut, indah, dan tanpa menghakimi. Film ini menjadi film Pakistan pertama yang tayang di Cannes (dipilih untuk Un Certain Regard), memenangkan Jury Prize dan Queer Palm, serta mendapat nominasi Oscar untuk Pakistan di kategori Best International Feature Film. Dengan Ali Junejo sebagai Haider, Rasti Farooq sebagai Mumtaz, dan Alina Khan sebagai Biba, Joyland berhasil jadi romansa yang menyentuh sekaligus kritik sosial tajam—romansa Pakistan yang berani dan penuh empati. BERITA TERKINI
Sinopsis dan Konflik Keluarga yang Rumit: Review Film Joyland: Romansa Pakistan yang Berani
Cerita berpusat pada Haider (Ali Junejo), anak bungsu dalam keluarga konservatif di Lahore. Ia tinggal bersama istri Mumtaz (Rasti Farooq), kakak-kakaknya, dan ayahnya yang otoriter (Sarwat Gilani). Haider dianggap “kurang laki-laki” karena tidak punya anak laki-laki dan lebih suka membantu pekerjaan rumah tangga daripada bekerja di luar. Ayahnya terus menekan agar Mumtaz hamil lagi, sementara Haider diam-diam bekerja di teater erotis underground sebagai penjaga panggung.
Hidup Haider berubah ketika ia bertemu Biba (Alina Khan), penari transgender yang menjadi bintang utama pertunjukan. Hubungan mereka berkembang dari rasa kagum menjadi cinta yang rumit dan penuh risiko—di tengah masyarakat yang masih memandang transgender sebagai tabu. Sementara itu, Mumtaz mulai merasa terjebak dalam peran istri dan ibu yang sempit, hingga akhirnya menemukan keberanian untuk mengejar keinginannya sendiri. Film ini tidak punya villain tunggal; setiap karakter punya alasan dan luka sendiri, membuat konflik terasa sangat manusiawi.
Ali Junejo, Alina Khan, Rasti Farooq: Performa yang Menyentuh: Review Film Joyland: Romansa Pakistan yang Berani
Ali Junejo sebagai Haider memberikan penampilan yang luar biasa lembut dan rapuh—pria yang terjebak antara ekspektasi keluarga dan hasrat pribadinya. Ekspresi wajahnya saat pertama kali melihat Biba, atau saat ia berjuang menyembunyikan perasaannya, terasa sangat autentik. Alina Khan sebagai Biba membawa karisma dan kerentanan yang kuat—seorang transgender yang percaya diri di panggung tapi penuh ketakutan di luar sana. Penampilannya jadi salah satu representasi transgender terbaik di sinema Asia Selatan.
Rasti Farooq sebagai Mumtaz mencuri perhatian dengan peran yang sering terabaikan dalam cerita semacam ini—istri yang diam-diam memberontak terhadap peran tradisionalnya. Chemistry antara ketiganya terasa alami dan penuh lapisan: cinta yang rumit, empati yang tumbuh, dan rasa sakit yang tak terucap.
Visual Lahore yang Indah dan Pesan yang Berani
Saim Sadiq menangkap Lahore dengan keindahan yang kontras: rumah keluarga yang sempit dan penuh aturan, teater bawah tanah yang penuh warna dan lampu neon, serta jalanan kota yang hidup. Warna-warna hangat dan pencahayaan lembut membuat film terasa intim dan penuh kehidupan. Musik Faiz Zaidi dan Carmen Phelan dengan nada tradisional Pakistan yang dipadukan elemen modern memperkuat emosi tanpa mendominasi.
Pesan film ini sangat berani untuk konteks Pakistan: kritik terhadap patriarki, penolakan terhadap norma gender kaku, dan harapan bahwa cinta serta penerimaan diri bisa tumbuh bahkan di tempat yang paling tertutup. Film ini tidak menghindari adegan intim atau kekerasan emosional, tapi semuanya disajikan dengan sensitivitas tinggi dan tanpa eksploitasi.
Kesimpulan
Joyland adalah romansa Pakistan yang berani sekaligus lembut—cerita tentang cinta terlarang, identitas, dan pemberontakan kecil yang disajikan dengan kepekaan luar biasa. Saim Sadiq berhasil menciptakan film yang indah secara visual, kuat secara emosional, dan penting secara sosial. Ali Junejo, Alina Khan, dan Rasti Farooq membawa karakter yang hidup dan relatable, membuat penonton ikut merasakan sukacita, duka, dan harapan mereka.
Di tengah sinema Asia Selatan yang sering terbatas oleh sensor dan norma, Joyland muncul sebagai karya yang berani bicara tentang hal-hal yang masih tabu—tanpa menghakimi, tapi dengan penuh empati. Ini film yang wajib ditonton ulang—setiap kali terasa lebih dalam, lebih indah, dan lebih menggugah. Salah satu drama romansa terbaik dari Asia Selatan dalam beberapa tahun terakhir.

