Review Film The Conjuring: Last Rites – Horor Terakhir?

Review Film The Conjuring: Last Rites – Horor Terakhir?

Review Film The Conjuring: Last Rites – Horor Terakhir? Film The Conjuring: Last Rites yang tayang sejak September 2025 resmi jadi penutup utama franchise The Conjuring. Disutradarai James Wan (sutradara dua film pertama), film ini bawa Patrick Wilson dan Vera Farmiga kembali sebagai Ed dan Lorraine Warren dalam kasus terakhir mereka. Cerita diambil dari investigasi nyata keluarga Perron di Rhode Island tahun 1970-an—kasus yang jadi dasar film pertama—tapi dengan twist baru yang lebih gelap dan emosional. Dengan durasi 1 jam 52 menit dan budget US$90 juta, film ini sudah raup US$520 juta global hingga Januari 2026. Rating Rotten Tomatoes 84% kritikus dan 90% penonton, CinemaScore A-. Pertanyaannya: apakah Last Rites berhasil jadi penutup epik dan mencekam, atau malah terasa lelah setelah sekian banyak sekuel? BERITA BASKET

Kekuatan Atmosfer dan Ketegangan yang Masih Kuat di Film The Conjuring: Last Rites: Review Film The Conjuring: Last Rites – Horor Terakhir?

James Wan kembali tunjukkan kenapa dia master horor. Atmosfer film ini sangat mencekam—rumah Perron dibuat gelap, lembab, dan penuh bayangan yang hidup. Sound design jadi bintang utama: suara langkah kaki di loteng, pintu berderit, dan bisikan anak kecil bikin penonton merinding terus-menerus. Jump scare-nya tak murahan—kebanyakan build-up panjang yang bikin jantung berdegup kencang sebelum ledakan suara. Adegan paling ikonik adalah “the witch in the wardrobe” dan “the hanging man” yang muncul dengan cara baru—lebih brutal dan psikologis. Visualnya tetap praktis: makeup efek, boneka Annabelle, dan set fisik bikin horor terasa nyata, bukan cuma CGI. Tone film lebih emosional dibanding sekuel sebelumnya—fokus pada rasa takut kehilangan orang tersayang dan trauma yang tak pernah hilang. Patrick Wilson dan Vera Farmiga tampil di puncak performa—Ed yang mulai lelah dan Lorraine yang semakin sensitif bikin chemistry mereka terasa lebih dalam dan menyentuh.

Performa Cast dan Cerita yang Lebih Emosional dari Film The conjuring: Last Rites: Review Film The Conjuring: Last Rites – Horor Terakhir?

Patrick Wilson dan Vera Farmiga tetap jadi jantung film—mereka bawa Ed dan Lorraine dengan kedalaman yang makin matang. Wilson beri Ed yang kuat tapi mulai rapuh karena usia dan trauma, sementara Farmiga bawa Lorraine yang semakin terbebani oleh visi-visi mengerikan. Momen mereka berdua di akhir film jadi salah satu yang paling emosional sepanjang franchise. Cast pendukung seperti Ron Livingston dan Lili Taylor (kembali sebagai keluarga Perron) beri performa solid, meski subplot anak-anak mereka terasa agak kurang dieksplorasi. Cerita kali ini lebih fokus pada “akhir dari perjalanan”—Ed dan Lorraine sadar ini mungkin kasus terakhir mereka, dan ada rasa perpisahan yang kuat. Twist akhirnya cukup mengejutkan tapi tetap setia pada lore The Conjuring—tanpa terlalu memaksa setup spin-off.

Kelemahan dan Perbandingan dengan Film Sebelumnya

Meski kuat, film ini punya kelemahan di pacing dan orisinalitas. Babak tengah terasa agak lambat karena terlalu banyak build-up dan flashback, bikin ketegangan kadang turun. Beberapa jump scare terasa repetitif—mirip pola film pertama dan The Nun. Ada juga kritik bahwa cerita terlalu bergantung pada formula lama: investigasi → penampakan → eksorsisme, tanpa inovasi besar seperti Annabelle Creation atau The Nun II. Durasi 1 jam 52 menit terasa pas, tapi beberapa penonton bilang endingnya agak terburu-buru dan terlalu “manis” untuk franchise yang biasanya gelap. Dibandingkan film pertama yang revolusioner atau The Conjuring 2 yang punya adegan ikonik, Last Rites terasa lebih “aman” meski tetap mencekam.

Respon Penonton dan Dampak

Penonton Indonesia suka banget—film ini laris di bioskop-bioskop besar, dengan banyak yang nonton berulang untuk adegan jumpscare dan emosi akhir. Box office US$520 juta (dengan proyeksi akhir US$700–800 juta) tunjukkan sukses komersial, meski tak sebesar The Conjuring pertama. Di media sosial, klip “the wardrobe scene” dan momen Ed-Lorraine jadi viral. Film ini juga jadi penutup yang layak untuk saga utama The Conjuring—memberi rasa penutupan emosional tanpa memaksa. Spin-off seperti The Nun dan Annabelle tetap berlanjut, tapi Last Rites terasa seperti akhir dari cerita Ed dan Lorraine.

Kesimpulan

The Conjuring: Last Rites adalah penutup franchise yang brutal, mencekam, dan penuh emosi. James Wan dan duo Wilson-Farmiga berhasil bawa kembali ketegangan klasik dengan kedalaman baru yang lebih menyentuh. Visual gelap, sound design merinding, dan adegan kematian kreatif tetap jadi kekuatan utama. Meski pacing tengah agak lambat dan cerita tak terlalu inovatif, film ini tetap jadi horor terbaik 2025 yang layak ditonton di bioskop. Worth it? Sangat—terutama buat fans yang sudah ikut sejak film pertama. Kalau suka horor psikologis dengan sentuhan emosional, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan tisu untuk momen akhir yang mengharukan. Maut datang lagi, dan kali ini terasa seperti perpisahan yang manis. Horor terakhir ini layak dapat tempat spesial di hati penggemar.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *