review-film-the-wave

Review Film The Wave

Review Film The Wave. Film The Wave (2015) kembali menjadi sorotan di tahun 2026 setelah serangkaian longsor dan tsunami kecil yang melanda beberapa wilayah pesisir di Eropa dan Asia Tenggara belakangan ini. Film Norwegia ini mengisahkan geolog Kristian Eikjord yang tinggal di desa kecil Geiranger di tepi fjord. Saat ia menemukan tanda-tanda longsor besar di gunung Åkerneset yang berpotensi memicu gelombang tsunami setinggi 80 meter, ia harus berjuang meyakinkan warga dan pemerintah lokal untuk segera evakuasi sebelum terlambat. Dengan pendekatan realistis, visual yang memukau, dan fokus pada dampak bencana terhadap keluarga biasa, film ini berhasil menyatukan ketegangan tinggi dengan emosi yang sangat manusiawi. Di tengah diskusi global tentang risiko alam yang semakin nyata, The Wave terasa seperti peringatan yang sangat kuat dan relevan. BERITA BOLA

Rekonstruksi Tsunami yang Sangat Realistis: Review Film The Wave

Film ini unggul dalam penggambaran bencana alam yang terasa sangat autentik. Geiranger, desa wisata indah di tepi fjord, digambarkan dengan cantik di awal—danau tenang, gunung hijau, dan kehidupan sehari-hari yang damai. Ketika tanda-tanda longsor muncul—retakan tanah, air mata air yang keruh, dan gempa kecil—ketegangan dibangun secara perlahan tapi pasti. Saat longsor akhirnya terjadi, gelombang tsunami yang dihasilkan digambarkan dengan detail mengerikan: dinding air setinggi gedung yang menyapu desa, menghancurkan hotel, rumah, dan jembatan dalam hitungan detik.

Efek visual menggunakan campuran CGI dan set praktikal yang sangat baik. Air terasa berat dan kotor, puing-puing beterbangan, dan orang-orang terseret seperti boneka. Adegan Kristian berlari menyelamatkan keluarganya di tengah banjir bandang, atau saat ia terperangkap di terowongan yang banjir, terasa sangat claustrophobic dan mencekam. Film tidak berlebihan dengan kehancuran global; ia fokus pada satu komunitas kecil, membuat dampaknya terasa lebih pribadi dan nyata.

Drama Keluarga sebagai Inti Emosional: Review Film The Wave

Di tengah ancaman bencana, inti cerita adalah keluarga Kristian. Ia sedang menjalani hari terakhir sebagai geolog desa sebelum pindah ke kota besar bersama istri dan dua anaknya. Konflik muncul ketika peringatan longsor diabaikan karena belum ada bukti cukup kuat, sementara keluarganya sudah mulai berkemas. Ketika longsor benar-benar terjadi, Kristian harus memilih antara menyelamatkan diri dan keluarga atau tetap di posnya untuk memperingatkan warga.

Hubungan antara Kristian dan anak-anaknya—terutama putrinya yang remaja dan putranya yang masih kecil—menjadi jantung emosional. Adegan saat mereka terpisah di tengah banjir, atau ketika Kristian berjuang menyelamatkan anaknya dari arus deras, terasa sangat menyayat hati tanpa terasa berlebihan. Film ini berhasil menunjukkan bahwa di balik skala bencana besar, yang paling menyakitkan adalah ketakutan kehilangan orang tercinta. Akting para pemain utama sangat kuat—Kristoffer Joner sebagai Kristian membawa rasa tanggung jawab dan keputusasaan yang tulus, sementara karakter anak-anaknya terasa sangat alami dan tidak dibuat-buat.

Kelemahan Narasi dan Relevansi Saat Ini

Beberapa kelemahan terlihat jelas: subplot romansa antara Kristian dan istrinya terasa agak klise, dan beberapa keputusan karakter terlihat terlalu heroik untuk ukuran manusia biasa. Akurasi ilmiah juga tidak sepenuhnya sempurna—longsor sebesar itu memang mungkin, tapi kecepatan respons dan skala evakuasi agak disederhanakan.

Namun kekuatan film ini justru pada relevansinya di tahun 2026. Setelah beberapa tahun terakhir dipenuhi berita tentang longsor, banjir bandang, dan tsunami kecil yang semakin sering terjadi, adegan Geiranger hancur terasa seperti prediksi yang terlalu dekat dengan kenyataan. Pesan tentang pentingnya mendengarkan peringatan ilmiah, kesiapan evakuasi, dan prioritas nyawa manusia daripada pariwisata terasa sangat mendesak tanpa terasa menggurui.

Kesimpulan

The Wave adalah film bencana yang luar biasa karena tidak hanya menampilkan kehancuran spektakuler, melainkan menjadikan ikatan keluarga dan tanggung jawab individu sebagai inti cerita. Rekonstruksi tsunami fjord yang mencekam dipadukan dengan drama pribadi yang sangat menyentuh, menciptakan pengalaman sinematik yang sekaligus menegangkan dan mengharukan. Di tahun 2026, ketika risiko bencana alam semakin nyata di banyak wilayah, film ini terasa lebih dari sekadar hiburan—ia menjadi pengingat tajam tentang kerapuhan hidup dan pentingnya kesiapan. Jika Anda mencari film yang bisa membuat Anda berdebar sekaligus merenung tentang hubungan keluarga di saat krisis, The Wave tetap jadi salah satu pilihan terbaik dalam genre survival bencana alam. Gelombang datang, desa tenggelam, tapi cinta dan harapan tetap bertahan—persis seperti yang kita butuhkan di dunia nyata saat ini.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *